Menyampaikan Isi Risalah Kenabian

Kamis, 23 Februari 2017

  • Islam dan Kekuasaan Dunia

    Firman Allah Ta’ala: “Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Q.S. Ali Imran: 26)

    Asbabun Nuzul
    Imam Al Baghawi dan Al Wahidy meriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Anas bin Malik berkata, “Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berhasil membebaskan kota Makkah, beliau menjanjikan kepada umat Islam bahwa Kerajaan Persi dan Kerajaan Romawi juga akan dibebaskan. Kemudian orang munafiq dan orang yahudi berkata, “Tidak mungkin, tidak mungkin. Dari mana Muhammad dapat membebaskan Kerajaan Persi dan Romawi karena kerajaan ini sangat kuat dan kokoh. Apakah Makkah dan Madinah tidak cukup bagi Muhammad sehingga ingin menguasai Kerajaan Persi dan Romawi?”

    Maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala menurunkan ayat di atas.

    Ayat ini merupakan sebagian ayat yang menjelaskan tentang kekuasaan atau kepemimpinan suatu kelompok atas kelompok yang lain yang disebut dengan istilah hegemoni. Pada ayat ini disebutkan bahwa Allah lah penguasa yang sebenarnya. Sebagaimana disebutkan pada ayat ini:

    Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Q.S. Al-Mulk: 1)

    Kekuasaan manusia betapapun besarnya hanyalah pinjaman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan naiknya seseorang menjadi penguasa hanyalah setelah adanya pengakuan dari orang lain.

    Sedang Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagai Maha Kuasa tidaklah berkuasa karena diangkat dan seandainya semua makhluk di muka bumi tidak mau mengakui kekuasaan Allah, Allah tetap Maha Kuasa.

    Maka pada ayat di atas, Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengajarkan kepada manusia dengan ungkapan penuh ta’dzim tentang kekuasaan. Dilihat dari segi kata-kata, ayat di atas bernuansakan doa; dari segi makna merupakan pengharapan; dari segi isi merupakan sentuhan halus pada perasaan manusia agar tidak berambisi kepada kekuasaan; dari segi ‘kauniyah’ menunjukkan betapa besarnya kekuasaan Allah dalam mengatur alam raya ini dan manusia hanya bagian kecil dari bagian alam raya yang Mahaluas ini.

    Menurut Ahmad Musthafa Al Maraghi ayat di atas merupakan penghibur untuk Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam menghadapi orang yag menentang Islam sekaligus sebagai peringatan untuk beliau akan kekuasaan Allah yang mampu menolong agama-Nya dan meluhurkan kalimat-Nya.

    Muhammad Ramadlan Al Buthy menyatakan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berjuang bukanlah untuk mecapai suatu hegemoni (kekuasaan) atau mencapai jabatan tertinggi kepada sebagai penguasa atau raja.

    Ibnu Hisyam dan Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa ‘Utbah bin Rabiah, salah satu cendikiawan kafir Quraisy datang menghadap Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam agar beliau menghentikan dakwahnya sambil berkata, “Wahai putra saudaraku, jika dengan dakwah yang anda lakukan itu anda ingin mendapatkan harta, maka akan kami kumpulkan harta yang ada pada kami untuk anda sehingga anda menjadi orang yang terkaya di kalangan kami. Jika anda menginginkan kehormatan dan kemuliaan, anda akan kami angkat sebagai pemimpin dan kami tidak memutuskan persoalan apapun tanpa persetujuan anda. Jika anda ingin menjadi raja, kami bersedia menobatkan anda sebagai raja kami. Jika anda tidak sanggup menangkal jin yang merasuk ke dalam diri anda, kami bersedia mencari tabib untuk menyembuhkan anda tanpa menghitung biaya yang diperlukan sampai anda sembuh.”

    Ketika tawaran Utbah ini ditolak oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, para pembesar Quraisy beramai-ramai mendatangi beliau dengan menawarkan apa yang ditawarkan oleh Utbah. Kepada mereka beliau menyampaikan, “Aku tidak memerlukan semua yang kamu tawarkan. Aku berdakwah tidak karena menginginkan harta kekayaan, kehormatan atau kekuasaan. Tetapi Allah mengutusku sebagai Rasul. Dia menurunkan Kitab kepadaku dan memerintahkan aku menjadi pemberi kabar gembira dan peringatan.”

    Dari sini tampak jelas bahwa tujuan dakwah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bukan untuk mencari kekuasaan dan beliau tidak mau menggunakan kekuasaan untuk menegakkan risalahnya, seperti yang dilakukan para penganjur ideologi sekuler yang memanfaatkan kekuasaan untuk memaksakan ideologi kepada orang lain.

    Jika cara seperti ini dibenarkan dan dianggap sebagai “kebijaksanaan” yang syar’i, niscaya tidak ada bedanya dakwah Islam dan penganjur kebatilan, karena dakwah Islam berdasar kerelaan, sebagaimana firman Allah:

    Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al Baqarah: 256)

    Sedang penganjur kebatilan berdasar kesewenang-wenangan, dan penindasan. Sebagaimana firman Allah:

    “Sesungguhnya Fir´aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir´aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Q.S. Al Qashash: 4)

    Kekuasaan Senantiasa Berganti
    Para ahli sejarah menyatakan bahwa hegemoni Islam mulai mendunia di masa Islam di bawah kekuasaan Bani Umayyah yang berkuasa dari tahun 41H/661M. Di masa kekuasaan Bani Umayyah, Islam menjadi kekuatan yang paling menentukan di dunia saat itu. Sekalipun di awal kekuasaannya menimbulkan kontroversi yang dahsyat di kalangan umat Islam, tetapi kekuasaan Bani Umayyah telah menyumbangkan kepada umat Islam kekuasaan imperium yang luar biasa. Tidak salah bila dikatakan bahwa pada masa ini, hegemoni dan pengaruh Islam di luar jazirah Arab telah mencapai prestasi yang mencengangkan. Secara syar’i, Bani Umayyah dengan pemimpin yang pertama Muawiyah bin Abi Shafyan telah mengubah sistem khilafah menjadi monarki. Abul A’la al-Maududi menyebut pemerintahan Bani Umayyah sebagai kerajaan. Ketika menulis khalifah di depan nama Muawiyah, ia menulisnya dengan menggunakan tanda kutip, “Khalifah.” Menurut Maududi, kekuasaan Bani Umayyah tidak berdasarkan persetujuan kaum muslimin, dan tidak pula dipilih oleh umat Islam secara bebas melainkan berdasarkan kekuatan pedang.

    Ketika hegemoni Islam mendunia, keamanan dunia relatif dapat tercipta, para pengikut berbagai macam agama hidup dengan tenang dan terhormat karena mereka diberlakukan dengan sangat baik.

    Hegemoni umat Islam di dunia atas manusia berakhir dengan ruhtuhnya Khilafah Utsmaniyah yang ditengarai dengan munculnya Kemal Al-Tatruk yang mengganti sistem Islam dengan sistem kapitalisme. Sejak itu kebesaran Turki Utsmani benar-benar tenggelam bahkan tidak lama kemudian pada tahun 1924 Kekhilafahan dihapuskan. Semua daerah kekuasaannya yang luas baik Asia, Afrika maupun Eropa dijajah oleh negara-negara Barat. Hegemoni Barat terhadap dunia Islam diawali dengan Perang Salib dari tahun 1095 – 1291. Disebut Perang Salib karena orang Kristen Eropa menggunakan tanda salib di dadanya sebagai symbol pemersatu untuk menunjukkan bahwa peperangan yang dijalankan adalah perang suci. Tujuan Perang Salib adalah membebaskan kota suci Yerusalem atau Baitul Maqdis dari tangan kaum muslimin. Setelah itu berjalanlah penaklukan bangsa Eropa atas negeri muslim dengan latar belakang sebagai berikut:

    1. Mercenary, yaitu untuk mencari keuntungan di negeri-negeri Islam. 2. Missionary, yaitu untuk menyebarkan agama Kristen ke negeri-negeri Islam. 3. Military, yaitu untuk perluasan daerah militer.

    Selain hal di atas, yang melatarbelakangi penjajahan Barat adalah faktor ekonomi dan kekuasaan. Bentuk-bentuk penjajahan Barat terhadap dunia Islam berupa penyerangan, penaklukan, sehingga wilayah-wilayah Islam yang jatuh ke negara-negara Barat, rakyatnya ditindas dan diperbudak.

    Hegemoni Barat terhadap dunia Islam ternyata membawa implikasi yang sangat luas bagi perkembangan peradaban Islam, baik peradaban material yang berupa teknologi baru maupun peradaban mental. Hegemoni Barat telah memicu gerakan pembaharuan Islam yang bertujuan untuk memurnikan agama Islam dari pengaruh asing dan menggali sumber-sumber Islam dan menyadarkan umat Islam untuk kembali kepada al-Quran dan as-Sunnah.

    Umat Islam menyadari bahwa hegemoni Barat terhadap dunia Islam adalah dikarenakan kaum muslimin tidak dalam kondisi bersatu. Perpecahan terjadi di seluruh wilayah dan para pemimpin Islam saling bermusuhan serta tidak memiliki seorang pemimpin. Oleh karena itu muncullah kesadaran umat Islam untuk kembali menghidupkan sistem kesatuan kepemimpinan yang disebut dengan sistem khilafah.

    Sesuai dengan sunatullah, hegemoni Barat terhadap dunia Islam mulai melemah. Hal ini adalah sebagai isyarat firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.” (Q.S. al-Taubah: 33)

    Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.“ (Q.S. al-Fath: 28). Atau dalam (Q.S. al-Shaff: 9)

    Rangkaian ayat di atas menegaskan bahwa akhirnya Islam-lah yang akan mengungguli agama-agama dan segala bentuk doktrin yang lain, dan umat Islam pasti akan menang selama mereka konsisten berpegang kepada petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dan ajaran Islam yang benar.

    Wallahu A’lam Nasehat Imamul Muslimin.

  • Kamis, 16 Februari 2017

  • Pertolongan Allah

    Ilustrasi
    Upaya memelihara keimanan dan menyebarkan risalah Islam seringkali dihadapkan kepada berbagai rintangan dan kesulitan. Mukmin yang mendengki, munafik yang membenci, kafir yang memerangi, setan yang menyesatkan dan nafsu yang melawan. Rintangan dan kesulitan ini merupakan ketetapan Allah bagi umat Nabi Muhammad dan sesungguhnya hal ini tidaklah buruk. Sudah menjadi aksioma yang tidak dapat dipungkiri bahwa manusia akan dihadapkan kepada persoalan hidup dan kehidupannya. Baik persoalan itu diakibatkan oleh kesalahannya, namun persoalan hidup ini juga dapat terjadi karena sikap kokohnya dalam mempertahankan kebenaran.

    Allah menguji orang beriman dengan berbagai persoalan hidup dan cobaan agar diketahui kadar dan kebenaran keimanannya serta untuk diketahui siapa yang paling baik amalnya. Tentang persoalan hidup dan ujian ini Allah nyatakan dalam Al-Qur’an:

    ..... Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya..... (QS. Al-Mulk [67]: 1-2)

    Untuk menghadapi ujian, cobaan dan rintangan hingga mencapai kemenangan nyata, kaum muslimin tidak dapat mengandalkan kekuatan yang ada pada diri mereka semata. Mereka memerlukan pertolongan Allah swt. Pertolongan itu bukanlah anugerah gratis yang datang tiba-tiba tanpa sebab. Ia adalah karunia mahal yang memiliki syarat dan penyebab. Allah anugerahkan pertolongan ini kepada mereka yang telah memenuhi syarat dan ketentuan-Nya, namun tidak dijanjikan kepada para penganiaya dan pelaku kezhaliman.

    Belakangan ini, ditemukan dalam kehidupan di berbagai tempat, orang-orang yang telah mengucapkan dua kalimah syahadah, dalam Kartu Identitasnya pun tertulis sebagai muslim, rajin datang ke mesjid serta membaca Al-Qur’an, namun masih saja bergelimang maksiat, berjudi, meminum minuman keras dan tidak peduli kepada kondisi lingkungannya.

    Pertolongan sering digambarkan sebagai sesuatu untuk meringankan beban berat perjuangan dan penderitaan atau menghilangkan rintangan yang menghalangi kemenangan. Gambaran ini tidak salah seratus persen, karena diantara sekian bentuk pertolongan adalah seperti penjelasan itu.

    Sementara itu, dapat dilihat pula secara seksama bagaimana muslim Palestina masih saja dijajah. Sebagian mereka mempertahankan diri di kota Gaza, sebagian lagi harus melakukan eksodus ke negara-negara yang mau menerima mereka, diantaranya Syiria dan Mesir. Di dua negara ini pun, hingga awal 2017, masih terjadi pergolakan-pergolakan.

    Muslim etnis Rohingya harus menempuh luas dan ganasnya samudera serta meninggalkan tempat kelahirannya karena adanya gangguan dari pihak yang tidak menyukai mereka berada di negeri kelahirannya. Tidak sedikit diantara mereka mati dan harus dibuang ke laut saat melakukan perjalanan dengan tujuan yang tidak jelas demi menyelamatkan agamanya. Mereka yang berusaha bertahan di negerinya harus meningkatkan kesabaran karena untuk melaksanakan kewajiban agamanya kerap berbenturan dengan kebijakan rezim yang sedang berkuasa di negerinya. Akibatnya, ajaran-ajaran agamanya tidak dapat ditunaikan dengan semestinya.

    Begitu juga muslim di Suriah, Somalia dan Yaman, masih saja diterpa berbagai konflik yang berkepanjangan. Yang mengundang keheranan dan tidak habis pikir adalah, diantara konflik-konflik itu terjadi antara orang-orang muslim, yang sama-sama telah bersyahadat, pergi ke mesjid, berpuasa ramadhan, berhaji ke tanah haram, Makkah Al-Mukarramah.

    Muncul pertanyaan, mengapa mereka hidup dalam keadaan terpuruk seperti itu? Mengapa mereka terus menjadi maf’ul bih (objek penderita)? Dengan adanya fakta-fakta itu pula muncul pemahaman, mungkin Allah sudah tidak hendak menolong mereka. Tapi, bukankah Allah telah berfirman: ...Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang beriman. (QS. Ar-Rûm:47)

    “Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman. (QS. An-Nisâ’[4]: 141).

    MACAM-MACAM PERTOLONGAN ALLAH
    Nasher bin Sulaiman Al-‘Umar menyatakan bahwa bentuk pertolongan banyak ragamnya. Diantaranya adalah pertama, takluknya musuh baik oleh kalangan para nabi maupun oleh orang biasa yang beriman. Kedua, kehancuran bagi orang-orang yang dusta dan keselamatan bagi para nabi, rasul dan orang-orang beriman lainnya. Ketiga, balasan dari Allah kepada musuh-musuh risalah setelah para nabi dan rasul wafat. Keempat, kematian bernilai syahadah. Kelima, sikap istiqamah. Keenam, kuatnya hujjah serta benarnya penjelasan, dan lain sebagainya.

    Pertolongan akan datang apabila umat Islam telah melaksanakan ajaran Islam dengan benar dan sungguh-sungguh. Tidak ada syari’at yang ditinggalkan umat Islam dan tidak ada ajaran yang diabaikan mereka. Pengakuan keimanan yang hanya diucapkan dalam syahadatain dan melestarikan sebagian syi’ar-syi’ar Islam belumlah dinilai sebagai orang beriman menurut Al-Qur’an, sehingga mereka tidak layak mendapatkan pertolongan. Karena Allah hanya berjanji menolong dan memenangkan orang-orang beriman. Allah menghendaki bahwa pertolongan-Nya terhadap orang-orang beriman dapat diwujudkan dengan usaha mereka. Hal ini diantaranya seperti dikemukakan dan disepakati oleh Yusuf Qardhawi.

    Jika ada orang yang diseru dengan nama iman pada jaman ini namun mereka tidak ditolong, maka kata Al-Marâghî, mereka berada dalam keimanan yang tidak benar; mereka para pengikut hawa nafsu; mereka jahil terhadap sunah-sunah penyebab datangnya pertolongan; karena Allah tidak akan menyelisihi janji-Nya dan tidak membatalkan sunnah-Nya, tapi Allah menolong orang-orang beriman yang menyetuji orang yang menuntut kebenaran dan keadilan dalam peperangannya, tidak zalim dan berlebihan dalam perangainya, dan orang yang bermaksud meninggikan kalimah Allah dan menolong agama-Nya.

    Para nabi yang terbunuh dan juga yang terusir dalam keadaan kokoh keimanannya kepada Allah, hakikatnya mereka ditolong Allah. Karena fakta bahwa ada orang yang diuji dengan kesempitan, kesulitan dan kekurangan ia mampu bersabar dan tetap menjaga agar menjadi hamba Allah yang taat beribadah dan berbuat baik. Kesempitan hidup, kekurangan sandang, pangan dan papan juga finansial tidak serta merta dimaknai bahwa orang tersebut tidak ditolong oleh Allah.

    Namun fakta lain menunjukkan, ketika Allah memberi kepada seseorang kemudahan, kelapangan dan kekayaan dalam hidupnya, tiba-tiba ia melupakan Allah dan melakukan berbagai maksiat serta hal yang dibenci Allah. Begitu juga ada diantara manusia yang taat saat diberi kelapangan hidup namun tiba-tiba menjadi orang yang melupakan kewajibannya kepada Allah saat dia diuji dengan kesempitan hidup. Sehingga dari dua fakta ini dapat disederhanakan bahwa, pertolongan Allah itu tidak diukur dengan parameter kesulitan hidup atau dengan kemudahannya, namun dengan ukuran apakah dia tetap taat kepada Allah ataukah dia berubah menjadi bermaksiat dan mengingkari-Nya.

    TAKHTIM

    Allah Subhanahu Wa Ta’ala. menjanjikan pertolongan-Nya, namun Dia pun mengemukakan syarat-syarat yang harus dipenuhi. Ada dua pilar yang harus diperhatikan orang beriman. Dua pilar tempat tegaknya kaum muslimin yang dengan ini mereka dapat menunaikan peranannya yang berat dan besar. Apabila salah satunya roboh maka di sana sudah tidak ada lagi kaum muslimin, hingga peranannya tidak dapat ditunaikan.

    Pertama, pilar iman dan takwa hingga wafat menghadap Allah yang Mahaluhur. Takwa yang kekal dan sadar yang tak pernah terlupakan dan tak pernah loyo sedikit pun selama hidup hingga tiba ajalnya,

    Bertakwa kepada Allah karena memang sudah menjadi hak-Nya agar manusia bertakwa kepada-Nya. Takwa tidak terbatas waktunya hingga menimbulkan keinginan dalam waktu tertentu itu, sebagaimana yang digambarkan dan dibayangkan orang. Apabila hati sudah memasuki jalan takwa, maka akan terbukalah baginya cakrawala yang luas dan akan timbullah kerinduan-kerinduan. Semakin dekat seseorang dengan ketakwaannya kepada Allah, maka akan semakin kuatlah kerinduannya kepada kedudukan tertinggi yang dapat dicapainya dan ke tingkatan setelahnya. Maka, akan sampailah hatinya ke maqam (posisi) kesadaran hingga tidak tidur dan terlena lagi.

    Kematian adalah urusan gaib dimana manusia tidak mengetahuinya kapan terjadi pada dirinya. Barangsiapa yang ingin mati sebagai seorang muslim, maka jalannya ialah sejak awal ia harus menjadi muslim, dan setiap saat haruslah sebagai orang muslim. Disebutkannya Islam sesudah takwa mengandung makna yang luas. Yakni tunduk, menyerahkan diri kepada Allah, taat kepada-Nya, mengikuti manhaj-Nya dan berhukum kepada kitab-Nya. Inilah makna yang ditetapkan oleh surat ini secara keseluruhan dan pada semua tempatnya, sebagaimana yang telah dikemukakan.

    Inilah pilar pertama tempat tegaknya kaum muslimin untuk menyatakan eksistensi dan memainkan peranannya. Pilar kedua adalah ukhuwah (jama’ah dan persatuan- red), yang bersumber dari takwa dan Islam yang merupakan pilar pertama itu. Asasnya adalah berpegang teguh kepada tali Allah –janji, manhaj dan agama-Nya. Bukan semata-mata berkumpul atas ide yang lain atau untuk tujuan yang lain dan tidak pula dengan perantaraan tali lain dari tali-tali jahiliah yang banyak jumlahnya.

    Oleh sebab itu, persatuan yang solid dan kesatuan yang kokoh akan terwujud jika masing-masing individu muslim diikat dan mengikatkan diri kepada tali Allah dimanapun dan kapanpun.

    Menyatukan langkah dalam Jama’ah Muslimin dan menyatukan komando di bawah Imamul Muslimin merupakan sebuah keniscayaan dan aksioma yang tidak bisa dibantah untuk mendapatkan pertolongan Allah tersebut, karena itulah nidzhom, sebagaiman Ali bin Abi Tholib nyatakan, “kebenaran yang tidak ternidzhom (terorganisir/terikat satu sama lain) akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir.”

    Wallahu Azza wa Jalla 'Alam

  • Kamis, 12 Januari 2017

  • Menyikapi Berita Hoax

    Di media sosial akhir-akhir ini semakin marak bertebaran apa yang disebut dengan informasi hoaks. Hoaks dari bahasa Inggris hoax, artinya tipuan, menipu, bohong, palsu atau kabar burung atau belum tentu kebenarannya.

    Dalam Wikipedia, hoaks dikatakan sebagai usaha untuk menipu atau mengakali pembaca atau pendengar agar mempercayai sesuatu, padahal si pembuat berita palsu tersebut tahu bahwa berita tersebut palsu.

    Bagaimana Islam menyikapi terhadap berita bohong ? Di antaranya yang pokok, di dalam surat Al-Hujurat ayat 6 disebutkan: Artinya :”Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Q.S. Al-Hujurat [49]: 6).

    Pada ayat tersebut terdapat kalimat (fatabayyanuu) artinya “periksalah dengan teliti”. Berarti Allah di dalam kalam suci Al-Quran memerintahkan agar kita meneliti suatu berita dengan cermat, teliti, tidak tergesa-gesa mengiyakan lalu menyebarkannya.

    Dalam ayat lain Allah mengingatkan, “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa. Jangan pula kalian memata-matai dan saling menggunjing. ... (QS. Al-Hujurât :12].

    Sebab dari prasangka itu akan meluas dan berkembang penyakit lain yang tidak kalah bahayanya, di antaranya kebiasaan berbohong, memutuskan silaturrahim, melakukan hajr (memboikot, mendiamkan), at-tahazzub (kekelompokan), al-walâ` dan al-barâ` (suka dan benci) yang tidak sesuai tempatnya, bahkan sampai bisa sampai pada tahapan saling membunuh.

    SABABUN- NUZÛL

    Ibnu Katsîr menyatakan, ayat ini dilatarbelakangi oleh suatu kasus sebagaimana diriwayatkan dari banyak jalur. Diantaranya Imam Ahmad rahimahullah, ia berkata : “Al-Hârits mengatakan: “Aku mendatangi Rasûlillâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mengajakku ke dalam Islam, akupun menyetujuinya. Aku katakan: ‘Wahai, Rasûlullâh. Aku akan pulang untuk mengajak mereka berislam, juga berzakat. Siapa yang menerima, aku kumpulkan zakatnya, dan silahkan kirim utusan kepadaku pada saat ini dan itu, agar membawa zakat yang telah kukumpulkan itu kepadamu’.”

    Setelah ia mengumpulkan zakat tersebut dari orang yang menerima dakwahnya, dan sampailah pula pada tempo yang diinginkan Rasûlillâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , ternyata utusan tersebut menahan diri dan tidak datang.

    Sebenarnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengutus al-Walîd ibnu `Uqbah kepada al-Hârits untuk mengambil zakat tersebut, tetapi di tengah jalan, al-Walîd ketakutan, sehingga ia pun kembalilah kepada Rasûlillâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sembari mengatakan: “Wahai, Rasûlallâh! Al-Hârits menolak menyerahkan zakatnya, bahkan hendak membunuhku,” maka marahlah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengutus pasukan kepada al-Hârits.

    Setelah kedua pasukan bertemu, al-Hârits menghadap, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “(Benarkah) engkau menolak membayar zakat dan bahkan ingin membunuh utusanku?” Al-Hârits menjawab: “Itu tidak benar. Demi Allah yang mengutusmu dengan sesungguhnya, aku tidak pernah melihatnya dan tidak pula datang kepadaku. Juga, tidaklah aku berangkat kecuali setelah nyata ketidakhadiran utusanmu. Aku justru khawatir jika ia tidak datang karena adanya kemarahan Allah dan Rasul-Nya yang lalu,” maka turunlah QS. Al-Hujurât :6 .

    KANDUNGAN AYAT

    Pertama, perintah kepada orang-orang yang beriman. Artinya sekaligus menunjukkan bahwa penyelewengan terhadap perintah ini dapat mengurangi kadar keimanan seseorang. Karena itu, dengan mohon pertolongan Allah kita laksanakan perintan-Nya ini.

    Kedua, jika ada orang fâsiq yang datang kepadamu dengan membawa berita penting maka harus diteliti kembali/crosscek.

    An-Naba`, artinya isu (kabar) penting. Adapun orang faasiq, ialah pelaku fusuuq, yaitu orang yang keluar dari ketaatan kepada Allah. Setiap kemaksiatan adalah fusuuq. Karena itu, faasiq diklasifikasikan menjadi dua macam, yaitu fâsiq besar dan fâsiq kecil.

    Fâsiq besar, identik dengan kufur besar, yang mengeluarkan pelakunya dari agama Islam. “Sesungguhnya orang-orang munaafik itulah orang-orang yang fâsiq. [QS. At-Taubah :67].

    Kefâsikan kecil, identik dengan dosa besar yang tidak mengeluarkan pelakunya dari agama Islam. Seperti berbohong, mengadu domba, memutuskan perkara tanpa melakukan tabayyun (penelitian terhadap kebenaran beritanya) terlebih dahulu.

    Dalam menafsirkan kata (fusûq) dalam ayat di atas, para ulama mengatakan, yaitu perbuatan maksiat. Al-Qurthubi berkata: “Al-Walîd dinyatakan fâsiq, artinya berbohong”.

    Ketiga, maka telitilah dulu setiap berita yang datang dan sampai kepada kita. Tentang kalimat ini, ath-Thabari memaknainya: Endapkanlah dulu sampai kalian mengetahui kebenarannya, jangan terburu-buru menerimanya.

    Syaikh al-Jazâ`iri mengatakan, artinya, telitilah kembali sebelum kalian berkata, berbuat, menyebarkan atau memvonis.

    Keempat, agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan.

    Penjelasan dari satu pihak yang mengadu tanpa tabayyun kepada yang diadukan, dapat menyebabkan keruhnya pandangan kita terhadap seseorang yang asalnya bersih, sehingga kita berburuk sangka kepadanya, enggan bertemu dan bahkan memboikotnya, dan akibat yang ditimbulkannyapun meluas. Jika dalam perdagangan bisa menurunkan omzet, dalam pergaulan menurunkan simpati, dalam dakwah menjadikan ummat tidak mau menerima nasihat dan pelajaran yang disampaikannya, bahkan bisa sampai pada anggapan bahwa semua yang diajarkannya dianggap tidak benar. Jika demikian, maka yang mendapat kerugian ialah ummat. Kelima, penyesalan. Penyesalan ini akan menimpa seseorang karena memandang suatu masalah (perkara) tanpa tabayyun. Akhirnya yang memvonis ini telah berbuat zhalim. Sedangkan yang tertuduh tanpa bukti, ia berarti mazhlûm (terzhalimi).

    Langkah terbaik secara keseluruhan tentunya adalah mengembalikan segala fitnah, berita hoaks itu pada pimpinan kaum Muslimin/Ulil Amri/Imamul Muslimin. Allah mengingatkan di dalam ayat: Artinya: “Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil Amri). kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu)”. (Q.S. An-Nisaa [4]: 83).

    Waallahu a’lam bishowab

  • Rabu, 04 Januari 2017

  • Mari Evaluasi Diri !

    Sebuah organisasi, perusahaan dan lembaga apapun jika ingin maju dan berkembang, unsur manajemen perlu terus melakukan apa yang disebut dengan evaluasi.

    Dalam Teori Evaluasi Pendidikan Bloom (1971) disebutkan, evaluasi, adalah pengumpulan fakta secara sistematis untuk menetapkan apakah terjadi perubahan dalam diri siswa dan menetapkan sejauh mana tingkat perubahan dalam pribadi siswa. Evaluasi ini penting untuk menyusun alternatif keputusan berikutnya.

    Pada sebuah perusahaan atau organisasi, evaluasi kinerja adalah suatu proses penilaian dalam pelaksanaan tugas staf atau unit-unit kerja sesuai dengan standar kinerja atau tujuan yang ditetapkan lebih dahulu.

    Tujuannya adalah untuk menjamin pencapaian sasaran dan tujuan perusahaan serta juga untuk mengetahui posisi perusahaan dalam persaingan dengan yang lain. Melalui evaluasi ini akan dapat diketahui bila terjadi pelambatan atau penyimpangan, untuk segera diperbaiki, sehingga sasaran atau tujuan dapat tercapai.

    Hasil evaluasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk banyak penggunaan, di antaranya untuk : peningkatan kinerja, pengembangan staf, pemberian kompensasi atau imabalan, peningkatan produktivitas, kepegawaian hingga menghindari perlakuan diskriminasi atau ketidakadilan.

    Evaluasi Amal dan Dosa

    Terlebih bagi individu Muslim, dapat dimaknai sebagai upaya melakukan evaluasi atas amal dan dosa yang telah diperbuat, untuk dapat diperbaiki, sehingga dapat mencapai tujuan sebagai orang yang bertakwa kepada Allah.

    Hal yang dievaluasi adalah yang bersifat vertikal, hubungan diri sebagai seorang hamba Allah dengan Allah, serta evaluasi hubungan horisontal, hubungan manusia dengan sesama manusia lainnya.

    Dengan evaluasi diri (muhasabah) dapat menjadi sarana mengantarkan diri mencapai tingkat kesempurnaan sebagai hamba Allah.

    Perintah untuk melakukan evaluasi diri bagi setiap hamba Allah mukmin, di antaranya tertera di dalam ayat:
    Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung.” (QS Al-Hasyr [59] : 18-20).

    Dalam hal ini, Allah menyeru orang-orang beriman agar senantiasa memelihara hubungan taqwa dengan Allah Sang Pencipta dan Pemelihara alam semesta beserta seisinya. Serta melakukan muhasabah, evaluasi, koreksi dan introspeksi diri, sejauh mana persiapannya untuk menghadapi Hari Esok. Dalam kalimat, “…dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.…”.

    Hari esok adalah hari akhirat. Hidup tidaklah akan disudahi hingga di dunia ini saja. Dunia hanyalah semata-mata masa untuk menanam benih. Adapun hasilnya akan dipetik adalah di hari akhirat. Maka, beriman kepada hari akhirat menyebabkan rezeki yang Allah karuniakan di dunia memang telah Allah sediakan terlebih dahulu sebagai persediaan hari esok.

    Itulah konsekwensi kita ber-Islam, karena hanya Islamlah satu-satunya agama yang tidak memisahkan antara kepentingan duniawi dan ukhrawi. Sehingga ada ungkapan ahli hikmah yang berbunyi, “ad-dunya mazra‘atu al-akhirah” (artinya dunia adalah tempat bercocok tanam untuk kepentingan akhirat).

    Oleh sebab itu, seyogyanyalah kita selaku orang-orang yang telah mengaku beriman memupuk imannya dengan takwa, lalu merenungkan hari esokya, apa gerangan yang akan kita ­bawa untuk menghadap Allah. Marilah kita masing-masing menghitung terlebih dahulu laba rugi hidup sendiri sebelum dihitung kelak.

    Di dalam sebuah hadits dari Syadad bin Aus Radhiyallahu ‘Anhu disebutkan, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, bahwa Nabi bersabda: Artinya: “Orang yang pandai adalah yang mampu mengadakan muhasabah (mengevaluasi, menghitung) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah.. (HR At-Turmudzi).

    Umar bin Khattab menyebutkan di dalam khutbahnya: Artinya: “Hitunglah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihitung/dievaluasi (pada hari kiamat), dan timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang (pada hari kiamat)”.

    Sementara Maimun bin Mihran mengatakan, “Seorang hamba tidak dikatakan bertakwa, hingga ia menghitung dirinya sebagaimana dihitungnya pengikutnya dari mana makanan dan pakaiannya”.

    Bagi Maimun, salah satu ciri orang yang bertakwa adalah orang yang senantiasa mengevaluasi amal-amalnya. Dan orang yang bertakwa, pastilah memiliki visi jauh ke depan hingga ke akhirat, semata untuk mendapatkan ridha Allah.

    Oleh karena itu, bukan karena berakhirnya Tahun Masehi 2016 menuju 2017, kita mengevaluasi diri. Namun, kapan saja, saatnya kita melakukan evaluasi diri untuk kebaikan kita masing-masing, dan kebaikan semua kaum Muslimin dalam perjuangan berjama’ah.

    Dan evaluasi itu tentu bukan hanya setahun sekali, tetapi berkali-kali. Dan evaluasi terbaik adalah dengan mencocokkan segala amal, program dan kegiatan dengan standar Al-Quran dan As-Sunnah.

    Waallahu a’lam bishowab 
    (Ust. Ali Farhan Ts)

  • Kamis, 29 Desember 2016

  • Haramnya Merayakan Tahun Baru Masehi

    Allah Subahanhu Wa Ta’ala berfirman, yang artinya, “Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang. (31) Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya; Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (QS. Ali Imran:31-32)

    Ayat ini menurut Ibnu Katsir sebagai pemutus hukum bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allah tetapi tidak menempuh jalan Muhammad, Rasulullah, bahwa dia adalah pembohong dalam pengakuan cintanya itu. Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits shahih, dari Rasulullah, beliau bersabda:

    “Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan itu tertolak.”

    Oleh karena itu, Allah berfirman “Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu.” Maksudnya, kalian akan mendapatkan sesuatu yang lebih dari kecintaan kalian kepada-Nya, yaitu kecintaan-Nya kepada kalian, dan ini lebih besar daripada kecintaan kalian kepada-Nya.

    Selanjutnya Allah berfirman memerintahkan kepada setiap individu, `Taatilah Allah dan Rasul-Nya, jika kamu berpaling.’” Yakni melanggar perintah-Nya, “Maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang kafir.”

    Hal ini menunjukkan bahwa menyalahi Allah dalam menempuh jalan-Nya merupakan perbuatan kufur, sebab Allah tidak menyukai orang-orang yang berpredikat seperti itu, meskipun ia mengaku mencintai Allah dan bertaqarrub kepada-Nya, sampai dia benar-benar mengikuti Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam.

    Terkait dengan perayaan Tahun Baru yang sebentar lagi akan kita temui, hendaknya umat Islam tidak mengikutinya, tidak merayakannya, karena merayakan tahun baru masehi bukanlah ajaran Islam, bahkan itu adalah budaya orang-orang Kafir, Nasrani.

    Yang dimaksud di sini adalah tahun baru menurut umat Kristen, yang lajim disebut dengan Tahun Masehi, dengan mengambil kelahiran Yesus Kristus sebagai tahun 1.

    Hari-hari dalam kalender Masehi pun sebenarnya diadobsi dari kepercayaan Paganis Romawi Kuno, yang sangat mengangungkan, memuliakan dan memuja Dewa Matahari (Sun-God). Kaisar Konstantin pun masih merayakan hari ini ‘sun-day’ sebagai hari kelahiran Dewa Matahari/Dewa Terang, Dewa Kehidupan, kesembuhan dll, yang dipercaya lahir pada tanggal 25 Desember. (Sismono, Hari-Hari Besar Keagamaan).

    Oleh karena itu ketika Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam datang datang ke Madinah, dalam keadaan penduduk Madinah memiliki dua hari besar yang mereka bergembira ria padanya, maka beliau bertanya : “Apakah dua hari ini?” maka mereka menjawab : “(Hari besar) yang kami biasa bergembira padanya pada masa jahiliyyah.

    Maka Rasulullâh shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya Allah telah menggantikan dua hari tersebut dengan hari raya yang lebih baik, yaitu ‘Idul Adh-ha dan ‘Idul Fitri.“

    Kalau seandainya hari-hari besar dalam Islam itu mengikuti adat kebiasaan, maka manusia akan seenaknya menjadikan setiap kejadian penting sebagai hari raya/hari besar, dan hari raya syar’i tidak akan ada gunanya.

    Karena itu, merayakan tahun baru Masehi merupakan sebuah larangan karena orang tersebut mengikuti kebiasaan Nashara dan menyerupai mereka. di mana mereka biasa memperingati Tahun Baru Masehi dan menjadikannya sebagai Hari Besar agama mereka, karena itu Tasyabbuh.

    Tasyabbuh adalah penyerupaan terhadap orang-orang kafir dengan seluruh jenisnya dalam hal aqidah atau ibadah atau adat atau cara hidup yang merupakan kekhususan mereka (orang-orang kafir).

    Dalil tentang diharamkannya tasyabbuh tersebut adalah (baik secara umum atau khusus) : Firman Allah subhanahu wa Ta’ala :Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.(QS. Al Baqarah:120). Juga dalam QS.Al Hadiid:16.

    Ibnu Katsir ra. menafsirkan ayat di atas, “Karenanya, Allah telah melarang kaum mukminin untuk tasyabbuh kepada mereka dalam perkara apapun, baik yang sifatnya ushul (prinsipil) maupun yang hanya merupakan furu’ (perkara cabang)”. Tafsir Ibni Katsir (4/323-324)

    Dalil lain yang mengharamkan menyerupai kaum kafir antara lain firman Allah SWT (artinya) : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad) ‘Raa’ina’ tetapi katakanlah ‘Unzhurna’ dan ‘dengarlah’. Dan bagi orang-orang kafir siksaan yang pedih.” (QS Al Baqarah : 104).

    Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini dengan mengatakan Allah SWT telah melarang orang-orang yang beriman untuk menyerupai orang-orang kafir dalam ucapan dan perbuatan mereka. Karena orang Yahudi menggumamkan kata ‘ru’uunah’ (bodoh sekali) sebagai ejekan kepada Rasulullah SAW seakan-akan mereka mengucapkan ‘raa’ina’ (perhatikanlah kami). (Tafsir Ibnu Katsir, 1/149).

    Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk darinya”. (HR. Abu Daud no. 4031 dari Ibnu Umar -radhiallahu anhuma- dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah (1/676) dan Al-Irwa` no. 2384)

    Ibnu Taimiah berkata, “Hukum minimal yang terkandung dalam hadits ini adalah haramnya tasyabbuh kepada orang kafir.

    Dengan demikian Islam telah mengharamkan umat Islam menyerupai kaum kafir dalam hal-hal yang menjadi ciri khas kekafiran mereka seperti aqidah dan ibadah mereka, termasuk hari raya mereka.

    Waallahu a’lam bishowab

  • Kamis, 22 Desember 2016

  • Konflik Timur Tengah dan Dunia Islam

    Sungguh sebuah tragedi kemanusiaan, bahwa di abad 21 ini yang awalnya diperkirakan sebagai abad kebangkitan dunia, pasca perang, dingin, menuju kepada dunia yang lebih aman, damai, berkeadilan dan makmur. Ketika itu banyak pihak yang memperkirakan bahwa teori “benturan peradaban” (clash of civilization) Huntington hanya sebuah bualan yang tak akan menjadi realita.

    Dengan jatuhnya Uni Soviet berkeping-keping dan dikenallah kemudian Amerika Serikat sebagai super power tunggal dunia, banyak yang menyangka jika dunia kemudian akan menjadi lebih aman. Bahkan bantuan Amerika Serikat kepada Mujahidin Afghan yang berhasil menumbangkan pasukan merah itu dianggap “kepahlawanan” dunia.

    Ternyata perkiraan Kofi Annan, Sekjen PBB ketika itu, dalam laporan tahunannya di tahun 2000 kepada pertemuan tingkat tinggi dunia (Millennium Summit) bahwa manusia akan memasuki abad baru (new millennium) diliputi oleh rasa takut dan lapar. Manusia masih jauh dari harapan bebas dari ketakutan dan kelaparan (freedom from fear and wants). Semua itu menjadi kenyataan dan mengarah kepada aktualisasi hipotesa Hungtington itu.

    Kini dunia itu cenderung mengarah kepada kekhawatiran Kofi Annan. Sejak peristiwa serangan teror ke Kota New York yang dikenal dengan tragedi 9/11, diikuti oleh serangan Amerika Serikat ke Afghanistan, lalu ke Irak, nampak bahwa hipotesa Hantington bahwa akan terjadi perbenturan antara dunia Barat dan Islam di satu sisi. Dan dunia Barat dan dominasi Cina di sisi lain semakin nampak.

    Benturan-benturan itu nyata. Benar benturan ideologi secara langsung itu tidak. Atau minimal masih terbungkus oleh basa basi diplomasi dunia. Atau mungkin juga masih ditutupi oleh kemunafikan para aktor di dunia internasional.

    Tetapi secara tidak langsung sesungguhnya mengamati berbagai konflik saat ini, khususnya konflik Timur Tengah, adalah benturan ideologi (paham dan cara pandang) melalui jembatan-jembatan kepentingan ekonomi, yang dipoles oleh berbagai terminologi nilai seperti kemerdekaan, HAM dan demokrasi.

    Arab Spring

    Setelah invasi Amerika Serikat (dan sekutunya) di Irak dan jatuhnya Saddam Husein, berbagai gerakan rakyat (peoples’ power movement) tumbuh di berbagai negara kawasan. Mulai di Tunisia, diikuti oleh Yaman, Libya, Mesir, bahkan negara-negara Teluk termasuk Bahrain dan Arab Saudi. Gerakan rakyat yang dikenal saat itu dengan “Arab Spring” (Musim semi Arab) sebagian berhasil seperti Tunisia dan Yaman. Sebagian pula dibumihanguskan seperti Bahrain dan Arab Saudi. Sebagian pula digandeng oleh kepentingan luar (global) seperti Mesir dan Libya.

    Akan tetapi barangkali dari sekian negara yang terimbas konflik Timur Tengah, Irak dan Suriah menjadi konflik yang berkepanjangan. Kata “kepanjangan” ini tidak saja karena rentang waktu yang cukup panjang. Tapi juga karena konflik ini menjadi “kepanjangan” tangan dari kepentingan-kepentingan berbagai pemain (actors).

    Presiden Libya, Moammar Khadafi, digulingkan bahkan terbunuh secara tragis, tidak lain karena dendam Saudi yang merasa tidak lagi dihormati oleh pemimpin negara-negara Afrika itu. Bahkan dalam sebuah pertemuan negara-negara Arab, Khaddafi dan Raja Abdullah ketika itu sempat berperang mulut terbuka di hadapan pembesar-pembesar Arab dan tamu lainnya.

    Kegerahan Saudi saat itu sesungguhnya tidak terlalu menarik minat Amerika Serikat untuk terlibat. Sehingga wajar jika yang berada di garda terdepan adalah negara-negara Eropa anggota NATO, khususnya Perancis. Hal ini karena Amerika Serikat di bawah pemerintahan Bush sesungguhnya telah melumpuhkan Khaddafi. Di mana Khaddafi telah menyerahkan semua potensi negara itu untuk membangun persenjataannya, khususnya di bidang nuklir.

    Demikian pula dengan Mesir. Ada kegalauan Amerika Serikat untuk terlibat di saat awal bangkitnya revolusi di negeri itu. Salah satu alasan terdepan adalah bahwa Mesir tidak memiliki potensi untuk dipertikaikan oleh berbagai “perpanjangan” tangan tadi. Kepentingan terbesar dari destabilisasi Mesir adalah pengamanan Israel dari kekuatan Islam di Mesir (baca Ikhwanul Muslimun).

    Dan sudah tentu, diakui atau tidak, juga karena aktor terdepan gerakan rakyat melawan rejim Mubarak di Mesir adalah Ikhwanul Muslimun, sebuah gerakan sosial politik yang tidak saja dikhawatirkan oleh Israel. Tapi ditakuti oleh banyak kalangan khususnya penguasa Timur Tengah.

    Konflik Irak dan Suriah

    Berbeda dengan negara-negara lainnya, konflik di Irak dan Suriah memang sangat khusus. Kekhususan itu karena banyak hal. Tapi yang terpenting adalah terlalu banyaknya kepentingan yang terlibat. Selain kepentingan Israel dari ancaman Hizbullah yang memang digandeng oleh pemerintahan Asad, juga kepentingan Saudi yang menganggap diri sebagai pahlawan Sunni melawan Iran yang memang dedengkotnya kaum Syiah.

    Belum lagi kelompok-kelompok internal yang sedang melawan rejim itu yang juga saling bertolak belakang bahkan bermusuhan. Kelompok Jabhat Nur, gerakan Al-Qaidah di Semenanjung Arabia, dan yang paling ekstrim adalah kelompok ISIS atau Daish itu sendiri.

    Tapi saya kira yang terpenting dari semua itu adalah pertarungan dua gajah dunia, Amerika Serikat dan sekutunya di satu sisi melawan Rusia dan kawan-kawan di sisi seberang. Kedua kekuatan besar sekarang ini sedang bertarung mengadu kekuatan untuk menguasai negara-negara kawasan, minimal membangun pengaruh (influence) di kawasan itu.

    Komplikasi seperti inilah yang menjadikan konflik Irak dan Suriah berkepanjangan, sadis dan menelan korban yang besar. Hampir susah diidentifikasi siapa lawan atau kawan, dan kira-kira hubungan dengan dan untuk kepentingan apa.

    Saudi misalnya, dikenal mendukung gerakan resistensi melawan Bashar Al-Asad karena alasan syiahnya. Hubungan antara Saudi dan Suriah dari dulu memang tidak pernah harmonis. Banyak perkiraan alasan. Satu di antaranya karena petinggi-petinggi Hamas ketika itu menjadikan Suriah sebagai “save haven”. Sementara Saudi digenjot oleh pihak-pihak tertentu untuk menekan Hamas.

    Namun demikian Saudi bersikap setengah hati dalam memerangi Al-Asad. Hal itu karena di barisan kelompok resistant juga bergabung ISIS, sebuah kekuatan baru di Timur Tengah bahkan global, yang sudah pasti menjadi ancaman bagi Saudi dan sekutunya. Walaupun awalnya, sebagaimana Al-Qaidah, ISIS adalah bentukan kolaborasi intelijen Saudi dan sekutunya ternyata belakangan senjata ini berbalik ingin memangsa tuan. Oleh karenanya memang Saudi dalam hal ini sedang mengalami “kegamangan”.

    Secara garis besar keterlibatan Saudi dan gangsters di Suriah bertujuan meredam kekuatan Iran yang sangat ditakuti. Ini tentunya karena mimpi buruk Saudi di Irak itu. Kini Irak dikuasai oleh Syiah, di bawah kontrol Iran. Dan ini pula yang menjadikan Saudi kalap mata dengan aksi yang sangat destruktif di Yaman.
    Bedanya, Saudi tidak memiliki dukungan ril dan pasti dalam konflik Suriah. Iran jelas memilki koalisi jelas dan kuat. Yaitu Bashar Al-Asad yang didukung sepenuh hati oleh Rusia.

    Lalu bagaimana dengan Amerika Serikat dan koalisinya? Bagaimana pula sikap dunia Islam mayoritas?

    Bersambung!

    Wallahu a’alm bis shawab.
    Oleh: Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation, New York.

  • Kamis, 24 November 2016

  • Memberi Nasihat

    Seorang hamba, tidak cukup hidup hanya dengan berilmu dan beramal shaleh serta memperbaiki dirinya sendiri saja. Tetapi, seharusnya ia juga berupaya untuk memperbaiki orang lain, agar dirinya menjadi mukmin sejati. Menshalehkan diri itu wajib. Tapi, menshaleh-kan diri orang lain juga menjadi hal yang tak kalah pentingnya. Apa artinya jika ada seorang shaleh yang berada di sebuah lingkungan tidak shaleh namun ia tak mampu atau tak peduli untuk menshalehkan orang lain yang ada di depan matanya.

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Tidaklah beriman salah seorang kalian sampai ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Mencintai saudara, atau manusia lain dan berusaha menyeru mereka kepada kebaikan adalah bentuk kesempurnaan iman dan ciri orang beriman. Karena dia berusaha mengajak orang lain agar selamat dari azab Allah Ta’ala. Dia sadar betul betapa ia tak ingin masuk surga sendiri sementara orang-orang yang ada di sekitarnya masuk ke dalam neraka.

    Saking pentingnya memberi nasihat dan menyeru manusia kepada kebenaran ini, sampai-sampai Rasulullah Shallallahu ‘Alaih Wasallam bersabda, “Sesungguhnya jika manusia melihat kemungkaran dan ia tidak merubahnya hampir-hampir Allah meratakan azab dari sisinya kepada mereka.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi disahihkan Al Albani rahimahullahu).

    Sekali lagi, jangan merasa menjadi orang baik dulu bila kita belum mampu mengajak orang lain di sekitar kita untuk menjadi baik seperti halnya diri kita. Menjalankan ketaatan adalah sebuah kewajiban. Tapi menyeru dan mengarahkan orang lain untuk menjalankan ketaatan yang sama seperti yang kita lakukan juga tak kalah penting.

    Bila kita merasa bahagia karena bisa mentaati Allah Ta’ala dengan menjalankan perintah-Nya, meninggalkan larangan-Nya serta menghidupkan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka sebaliknya pandanglah orang-orang di sekitar kita, jangan-jangan mereka masih asyik dengan aneka macam kemaksiatan yang dilakukan.

    Menangislah, sebab jangan-jangan karena ketidakpeduliaan kita pada mereka justeru bisa membawa kita ke neraka kelak. Karena kita tak pernah berusaha mengajak dan menyampaikan kepada mereka mana yang hak (benar) dan mana yang bathil (buruk) dalam menjalani kehidupan dunia ini. Menangislah dan jangan merasa puas, sebab Allah Ta’ala kelak akan menuntut kita ketika karena tak mau perduli dengan orang-orang di sekitar yang gemar melakukan dosa.

    Para ulama Islam sepakat bahwa mengajak berbuat baik dan mencegah berbuat kejahatan atau “al-Amr bi al-makruf wa al-nahyi ‘an al-mungkar” adalah keharusan setiap Muslim. Perbedaannya hanya terletak pada pelaksanaanya. Berikut ini uraian amar makruf nahi mungkar menurut al-Qur’an dan hadis nabi.

    Pertama, Qur’an surah Ali Imran ayat 104 dan ayat 110

    “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itu lah orang-orang yang beruntung.” (Qs. Ali Imran :104).

    Sebelum diperintahkan untuk berdakwah, pada Ayat sebelumnya 103, Allah memerintahkan kepada orang beriman untuk hidup berjama’ah dalam satu pimpinan/ imam dan larangan berpecah belah/berfirqoh-firqoh.

    Itu isyarat/petunjuk dari Allah Subahanhu Wa Ta’ala bahwa untuk mewujudkan, mengisi, mengerakan dan mendinamisir, kehidupan muslimin dalam kesatuan umat (berjama’ah) saranannya atau alatnya adalah ayat 104, ‘berdakwah’. Baru nanti bisa mencapai ayat 110, kuntum khirul ummah, kalian sebaik-baik umat.

    Inilah urgensinya dakwah, kalau tidak kesatuan umat tidak akan pernah terwujud, jama’ah mati, tidak berkembang. Sebaliknya perpecahan umat yang akan terjadi, sesama muslim akan bertengkar, saling memusuhi bahkan sampai saling mengkafirkan dan membunuh, dan inilah kemungkaran.

    Untuk itu, dakwah adalah sarana untuk mewujudkan masyarakat yang lebih baik, masyarakat yang bersatu dan saling mengasihi...pada akhirnya saling menasehati adalah pakaian orang-orang beriman tanpa menimbulkan perselisihan dan pertengkaran. Dalam satu desertasi dijelaskan...bahwasanya dakwah/amar ma’ruf nahi munkar adalah asas/dasar yang paling kuat untuk membangun sebuah masyarakat yang baik.

    Karena umat Islam ini adalah umat terbaik, maka yang harus didahulukan untuk disampaikan adalah kebaikan dalam situasi dan kondisi bagaimana pun. Nasehati orang yang telah berbuat salah, lalu serahkan kepada Allah Ta’ala yang akan menentukan. Sebagai umat terbaik, maka lakukanlah yang terbaik kepada siapa pun dan di mana pun.

    Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Kamu umat Islam adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang pasik.” (Qs. Ali Imran : 110)

    Dengan ayat ini Allah menegaskan bahwa umat Islam memang diciptakan untuk menjadi umat teladan bagi umat-umat yang lain karena membawa misi dakwah, yaitu perbuatan-perbuatan yang baik dan benar, serta mencegah segala perbuatan yang keji dan mungkar. Memerintahkan kepada kesatuan umat, hidup berjama’ah dan menjauhi perpecahan yang mengakibatkan perselisihan.

    Kedua, hadis tentang perintah melakukan amal ma’ruf nahi mugkar. Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Siapa saja yang mengajak kepada kepada kebenaran, maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya tanpa dikurangi sedikitpun. Dan siapa saja yang mengajak kepada kesesatan, maka ia mendapat dosa seperti dosa orang yang mengerjakan tanpa dikurangi sedikitpun.” (HR. Muslim).

    Hadis di atas memberi beberapa gambaran kepada kita. Pertama, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberi pilihan kepada umatnya untuk menjadi penyeru kepada kebenaran atau justeru menyeru kepada keburukan. Kedua, jangan pernah merasa rugi jika menyeru kepada kebaikan/kebenaran. Sebaliknya, jangan sekali-kali menjadi penyeru kepada keburukan (kesesatan).

    Wallahu a’alm bis shawab

  • Kamis, 17 November 2016

  • Al-Jama’ah

    Agama Islam adalah agama yang agung. Pemeluknya tidak akan hina di dunia dan di akherat kelak. Dasar ajarannya, karakteristiknya dan kaidahnya yang paling penting adalah memerintahkan kepada umatnya supaya berada dalam kesatuan yang haq, Al-Jama’ah.

    Ini adalah nikmat besar yang Allah karuniakan kepada hamba-hamba-Nya. Seperti firman Allah: Artinya: “Dialah (Allah) yang menguatkanmu dengan pertolongan–Nya dan dengan orang-orang yang beriman. Dan Dia menyatukan antara hati mereka, sekiranya kamu korbankan apa yang ada di muka bumi ini semuanya niscaya tidak akan dapat menyatukan hati mereka. Akan tetapi Allah yang menyatukan antara mereka, sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Al-Anfal [8]: 62-63).

    Dan orang-orang yang berjama’ah dalam satu kesatuan Islam yaitu orang yang mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah, mereka itulah orang mukmin yang sebenarnya. Walaupun yang menyelisihinya banyak dan lebih kuat.

    Sistem Berjama’ah
    Allah mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ’Alaihi Wasallam pada kaum yang berpecah belah, berselisih dalam urusan dunia mereka, dan setiap kelompok merasa bangga dengan kelompoknya. Maka Nabi melarang menyerupai mereka dan memerintahkan untuk bersatu, maka pasti akan tegaklah millah keagamaan dan lenyaplah kejahiliyahan, dan damailah keadaan manusia dengan bersatunya dalam Islam.

    Berjama’ah adalah pengikat kebenaran di antara kamu Muslimin, dan dengannya juga terpelihara cahaya Islam. Berjama’ah adalah wajib secara syariat kepada seluruh umat, sebagaimana firman Allah:

    Artinya: “Dan berpegang teguhlah kamu kepada tali Allah seraya berjama’ah dan janganlah kamu berpecah belah...” (QS Al-Imran [3]: 103).

    Ibnu Jarir Ath-Thabari berkata, ayat ini maksudnya adalah kaum Muslimin wajib berpegang teguh dengan agama Allah, dan Allah memerintahkan kita untuk bersatu, berjama’ah dalam kalimat yang haq.

    Pengertian Al-Jama’ah
    Secara bahasa, makna Al Jama’ah adalah perkumpulan (persatuan) dan lawan dari itu adalah perpecahan, dan lafadz ini bisa dijadikan nama bagi satu kaum yang berkumpul.” (Al Fatawa 3/157), (Syaikhul Islam Ibn Taimiyah)

    Al-Jama’ah menurut kamus bahasa Arab “Lisanul Arab”. 8/53, karangan Imam Ibnu Manzur, memiliki tiga arti yang berbeda, yaitu : Al-Ijtima (kesatuan), Al-Jami (berkumpul dan bekerja bersama-sama) dan Al-Ijma’ (mufakat dan persetujuan).

    Makna Jamaah dari segi bahasa yaitu “Menyatukan yang berpecah-belah”. Dan “Jamaah lawannya berpecah-belah”.

    Sedang kan menurut istilah Sahabat Nabi, Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, menafsirkan istilah Al Jama’ah: “Al Jama’ah adalah siapa saja yang sesuai dengan kebenaran walaupun engkau sendiri”

    Sahabat Ali rodhiallahu ‘anhu berkata: “Demi Allah Al Jama’ah adalah berkumpulnya Ahlul haq sekalipun sedikit, sedangkan Firqoh adalah berkumpulnya ahlul batil sekalipun banyak.”

    Imam Asy Syathibi (wafat 790H) juga merinci makna-makna dari Al Jama’ah, “Para ulama berbeda pendapat mengenai makna Al Jama’ah yang ada dalam hadits-hadits dalam lima pendapat:

    Pertama, Al-Jama'ah adalah Sawadul A'zham (kelompok manusia yang besar sekali jumlahnya).

    Kedua, Al-Jama'ah ialah kumpulan para imam dari kalangan ulama mujtahidin.

    Ketiga, Al-Jama'ah ialah para sahabat secara khusus ridhwanullah alaihim.

    Keempat, Al-Jama'ah ialah kumpulan umat Islam tatkala mereka bersepakat dalam satu urusan.

    Kelima, Al-Jama'ah ialah Jama'atul Muslimin yang sepakat atas seorang amir (pemimpin). (Lihat Syarh Ushul I'tiqad Ahlis Sunnah wal Jama'ah oleh Imam Al-Laalikai, tahqiq: Dr. Ahmad Sa'ad Hamdan juz 1-2 hal.96 dan As-Sunnah oleh Ibnuu Khallal, tahqiq: Dr. 'Athiyyah Az-Zahrani hal.74).

    Imam Asy Syathibi kemudian menyimpulkan: Al Jama’ah adalah bersatunya umat pada imam yang sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah. Dan jelas bahwa persatuan yang tidak sesuai sunnah tidak disebut Al Jama’ah yang disebut dalam hadits-hadits” (Al I’tisham 2/260-265, dinukil dari Fatwa Lajnah Ad Daimah 76/276)

    Pendapat yang dipilih oleh Imam Thabari yaitu bahwa Al-Jama'ah ialah Jama'atul Muslimin yang sepakat atas seorang amir (pemimpin).

    Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah memerintahkan untuk komitmen kepadanya dan melarang perpecahan umat dalam perkara kesepakatan tentang pemimpin yang telah diangkat. Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Siapa saja yang mendatangi umatku untuk memecah-belahkan jama'ah mereka, maka bunuhlah dia, walau siapapun orangnya." (HR. Muslim XII/241 dengan Syarah Imam Nawawi).

    Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-'Asqalani menukil perkataan Ibnu Jarir At-Thabari bahwa yang benar tentang maksud ucapan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Hudzaifah "Berpeganglah engkau kepada Jama'atul Muslimin dan imam mereka!" ialah: "Berpeganglah kepada orang-orang yang telah sepakat (berbai'at) mengangkat seorang amir dalam ketaatan. Barangsiapa melanggar bai'atnya maka dia telah keluar dari Al-Jama'ah!" (Fathul Bari, Al-'Asqalani XIII/37)

    Perintah Berjama’ah
    Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah seraya berjamaah dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni'mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni'mat Allah, orang-orang yang bersaudara...(QS. Ali Imran : 103)

    Dalam menetapi Jama’ah Muslimin, supaya terjaga dan terselamat dari badai fitnah, maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mewasiatkan umatnya supaya berada di dalamnya. Sahabat Hudzaifah bertanya kepada Nabi: “Apakah setelah kebaikan ada keburukan?”, Nabi menjawab: “Betul, yaitu seruan ke arah pintu jahannam, siapa ikut seruannya, maka terjerumuslah ke dalamnya”. Dia (Hudzaifah) bertanya lagi: “Ya Rasulullah, apa yang engkau perintahkan jika saya menjumpai hal itu?” Nabi bersabda: “Tetaplah kalian dalam Jama’ah Muslimin beserta Imaam mereka.” (HR Muslim).

    Wallahu a’alm bis shawab 
    (Ust. Arif Hizbullah MA)

  • Copyright @ 2013 Buletin Jum'at Ar-Risalah.

    Designed by Templateism